titanadityo
Jumat, 30 September 2011
Jumat, 11 Desember 2009
Ratusan Awak Truk dan Penambang Pasir Berdemo
Yon Daryono dan Bagus Pradana10/12/2009 12:25
Liputan6.com, Magelang: Ratusan awak truk pengangkut pasir yang didukung ribuan penambang pasir di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (10/12), mogok kerja. Aksi yang disertai dengan pemarkiran kendaraan truk yang mereka bawa di sepanjang jalan Kota Mungkid adalah menuntut agar Jalur Ngablak-Srumbung yang ditutup segera dibuka kembali.Secara spontan, para awak truk pengangkut pasir mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Magelang. Hal tersebut sungguh membuat repot aparat kepolisian setempat. Masalahnya, aksi dilakukan tanpa adanya pemberitahuan lebih dulu. Mereka datang tiba-tiba dengan menggunakan ratusan truk dan langsung memarkirkan kendaraannya di sepanjang Jalur Kota Mungkid, tepatnya di Jalan Letnan Rukiyat.
Tak hanya itu, para penambang pasir pun tak ketinggalan ikut datang berbondong-bondong dan langsung bergabung jadi satu dengan para awak truk pasir sebagai bentuk solidaritas sehingga memadati halaman Kantor DPRD setempat. Usaha mereka tidak sia-sia. Mereka diterima Ketua DPRD Magelang Tri Djoko yang berjanji akan memperjuangkan aspirasi para pendemo.(BJK/ANS)
LIPUTAN6.COM
Rabu, 25 November 2009
Dephub akan Hidupkan Lagi Jalur KA Lama
Dephub akan Hidupkan Lagi Jalur KA Lama
Jusman Syafii Djamal (ANTARA/Aldino Anatusa)
"Biasanya kalau misalnya ada jalur KA, beban jalan raya berkurang. Apalagi kalau kita lihat KA itu lebih murah, jadi orang yang naik motor cukup di dalam kota, tidak keluar kota jauh, itu tidak perlu naik motor," katanya, di Magelang, Minggu.
Hal itu dikatakannya di sela memantau arus balik Lebaran 2009, di Terminal Soekarno-Hatta Kota Magelang, Jawa Tengah.
Ia mengatakan, relatif banyaknya sepeda motor telah menambah beban jalan raya terutama di berbagai jalur utama.
Upaya mengoperasikan lagi jalur KA lama, katanya, juga bisa digunakan untuk alternatif angkutan barang.
"Angkutan barang, kalau bisa dipindahkan ke KA juga akan mengurangi beban jalan raya," katanya.
Ia menjelaskan, upaya mengoperasikan lagi jalur KA lama itu sebagai bagian dari dua program revitalisasi perkeretaapian.
Program itu, katanya, meliputi modernisasi semua lintas utama perkeretaapian seperti pergantian bantalan rel dari kayu menjadi beton dan perbaikan sinyal pengatur lalu lintas KA.
Selain itu, katanya, evaluasi terhadap semua lintasan KA yang sudah lama tidak dioperasikan untuk mengetahui kemungkinan dimanfaatkan lagi.
Ia mengatakan, hingga saat ini sejumlah lintasan KA yang telah dioperasikan lagi antara lain jalur Sukabumi-Bogor, Sukabumi-Bandung, dan salah satu lintasan di Lhokseumawe, Aceh.
Beberapa waktu lalu, katanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta Dephub mengkaji kemungkinan mengoperasikan lagi lintasan KA Yogyakarta-Magelang.
"Akan dikaji, ada dua pilihan, di Magelang-Yogyakarta, tetapi itu ada beberapa jalan KA sudah banyak bangunan, dan satu lagi yang dekat Ambarawa (Semarang,red.), itu akan dikaji Direktorat Jenderal Perkeretaapian, untuk melihat mana yang mungkin," katanya.
Ia mengatakan, Stasiun Muntilan, Kabupaten Magelang yang pada masa lalu menjadi salah satu ruas jalur KA Yogyakarta-Magelang, kini telah berubah menjadi terminal angkutan umum.
"Waktu Presiden mengatakan itu, saya pernah mengunjungi Terminal Muntilan," katanya.
Ia memperkirakan, butuh waktu sekitar satu tahun untuk mengkaji kemungkinan mengoperasikan jalur KA lama.
"Tidak lama (mengkaji,red), paling satu tahun bisa ketahuan apa masih mungkin dibangkitkan kembali atau tidak," katanya.
Wakil Wali Kota Magelang, Noor Muhammad, mengatakan, jalur KA Yogyakarta-Magelang tidak dioperasikan sejak sekitar 1977.
"Waktu itu digunakan untuk mengangkut para taruna Akademi Militer (Akmil) kalau pesiar," kata Noor yang juga mantan pengajar di Akmil itu. (*)
ANTARA NEWS
Sabtu, 21 November 2009
Belajar dari filsafat candi Borobudur
21 Nopember 2009 08:31 wib Daerah
Belajar dari Filsafat Candi Borobudur
Ada Relief Cicak dan Buaya
Magelang, CyberNews. Borobudur menjadi sebuah maha kitab dari batu berundak yang menyajikan ajaran-ajaran kehidupan manusia secara visual dan dapat pelajari sepanjang masa.
Zaman boleh berubah, tapi menurut Pimpinan Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut, maha kitab Borobudur tak berubah sedikitpun. Para pemimpin bangsa ini boleh saja bersandiwara memainkan hukum positif, tapi hukum di relief candi akan menyuarakan kebenaran.
‘’Adanya hukum karma yang diajarkan maha kitab Borobudur sebagai loncatan peradaban. Hukum karma akan melumatkan mereka-mereka yang sedang berbohong kepada rakyatnya,’’katanya.
Dia mencoba memberikan sebuah logika sederhana, tentang peradaban Buddha disaat wangsa Syailendra bercokol di Bumi Mataram. Ketika kebenaran diputar balik menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran, peradaban dianggap mengalami kemunduran.
‘’Tak ada lagi nilai kejujuran dan moral yang dijunjung saat ini, ketika melihat mereka yang sedang bersandiwara di depan pengadilan. Relief Borobudur sudah melukiskan perisitiwa itu, hingga detail adanya binatang melata cicak dan buaya,’’katanya.
Apa yang dikatakan dia, setidaknya memberikan gambaran bahwa Borobudur menjadi "pamomong" yang tak boleh dilupakan ketika peradaban modern tak lagi mengedepankan moral.
Menurutnya tak hanya hukum saja yang tercatat pada maha kitab batu berundak itu. Semua keilmuan ada termaktub dalam reliefnya. Dijelaskan, sumber dari segala ilmu itu Borobudur, karena mengandung ajaran filsafat dan spiritualitas yang tinggi.
SUARA MERDEKA cyber news
Belajar dari Filsafat Candi Borobudur
Ada Relief Cicak dan Buaya
Magelang, CyberNews. Borobudur menjadi sebuah maha kitab dari batu berundak yang menyajikan ajaran-ajaran kehidupan manusia secara visual dan dapat pelajari sepanjang masa.
Zaman boleh berubah, tapi menurut Pimpinan Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut, maha kitab Borobudur tak berubah sedikitpun. Para pemimpin bangsa ini boleh saja bersandiwara memainkan hukum positif, tapi hukum di relief candi akan menyuarakan kebenaran.
‘’Adanya hukum karma yang diajarkan maha kitab Borobudur sebagai loncatan peradaban. Hukum karma akan melumatkan mereka-mereka yang sedang berbohong kepada rakyatnya,’’katanya.
Dia mencoba memberikan sebuah logika sederhana, tentang peradaban Buddha disaat wangsa Syailendra bercokol di Bumi Mataram. Ketika kebenaran diputar balik menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran, peradaban dianggap mengalami kemunduran.
‘’Tak ada lagi nilai kejujuran dan moral yang dijunjung saat ini, ketika melihat mereka yang sedang bersandiwara di depan pengadilan. Relief Borobudur sudah melukiskan perisitiwa itu, hingga detail adanya binatang melata cicak dan buaya,’’katanya.
Apa yang dikatakan dia, setidaknya memberikan gambaran bahwa Borobudur menjadi "pamomong" yang tak boleh dilupakan ketika peradaban modern tak lagi mengedepankan moral.
Menurutnya tak hanya hukum saja yang tercatat pada maha kitab batu berundak itu. Semua keilmuan ada termaktub dalam reliefnya. Dijelaskan, sumber dari segala ilmu itu Borobudur, karena mengandung ajaran filsafat dan spiritualitas yang tinggi.
SUARA MERDEKA cyber news
Langganan:
Postingan (Atom)
